LUKIS KARIKATUR MOE

Rabu, 29 Juni 2011

MOTIVASI BELAJAR SISWA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Jaman semakin berkembang, dengan revolusi di segala bidang, baik teknologi maupun ilmu pengetahuan yang terangkum dalam paradigma pendidikan. Pendidikan erat kaitannya dengan upaya mencerdaskan generasi muda untuk menjadi generasi yang berkualitas dan mampu bersaing dalam dunia internasional. Untuk menuju arah tersebut pendidikan hendaknya menjadi prioritas yang harus diperhatikan. Secara umum gambaran tersebut mampu diaplikasikan seperti upaya mencerdaskan serta menambah ketrampilan seorang guru.
Seorang guru memiliki peran dalam aktivitas pembelajaran secara kompleks, karena guru tidak hanya sekedar menyampaikan ilmu kepada anak didiknya tetapi juga memainkan berbagai peranan untuk mengembangkan potensi anak didiknya secara optimal, peran-peran tersebut antara lain : korektor, inspirator, informator, organisator, motivator, inisiator dsb. Dalam makalah ini kami membatasi pada peran guru sebagai motivator, yaitu peran guru untuk dapat mendorong anak didiknya agar selalu senantiasa memiliki motivasi tinggi dan aktif belajar. Dengan demikian seorang guru perlu mengetahui bagaimana cara mengaktifkan siswa untuk belajar yaitu dengan menciptakan kondisi yang merangsang, menantang daya pikir dan cipta si belajar sehingga ia aktif dalam merespon pelajaran.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana definisi Motivasi ?
2.      Bagaimana langkah seorang guru agar mampu memotivasi anak didiknya sehingga proses belajar menarik, bermakna dan memberi tantangan bagi siswa ?








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Motivasi
Disadari atau tidak manusia memiliki keinginan dan hasrat motor penggerak dalam dirinya, hal tersebut berhubungan dengan faktor psikologi manusia yang mencerminkan antara sikap, kebutuhan, dan kepuasan yang terjadi pada diri manusia sedangkan daya dorong yang diluar diri seseorang mampu ditimbulkan oleh pimpinan. Keinginan dan hasrat penggerak itu yang disebut Motivasi. Motivasi menurut Wlodkowsky ( dalam Sugihartono dkk, 2007: 78 ) merupakan suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arahan serta ketahanan pada tingkah laku tersebut.  T. Hani Handoko ( 2003: 252 ) mengemukakan bahwa motivasi adalah keadaan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melalukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Oleh karenanya motivasi dalam belajar sangat penting untuk mencapai prestasi belajar.
Untuk dapat memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang disebut motivasi belajar, maka berikut ini penulis kemukakan beberapa definisi/bantuan dari beberapa ahli. Samidjo Mardiani memberikan definisi motivasi belajar sebagai berikut: “Motivasi belajar yaitu berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam proses perkembangannya yang meliputi maksud tekat, hasrat, kemauan, kehendak, cita-cita dan sebagainya untuk mencapai tujuan “ ( 1985: 10 ). Definisi lain diungkapkan oleh Drs. Amir Dien Indra Kusuma dalam bukunya Pengantar Ilmu pendidikan, dikatakan sebagai berikut : “Motivasi belajar ialah kekuatan-kekuatan atau tenaga-tenaga yang dapat memberikan dorongan kepada kegiatan belajar murid” ( 1973 : 162 ), sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Motivasi belajar merupakan berbagai usaha dengan tekad untuk mendorong kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan bersama.

B.     Langkah Seorang Guru  untuk Mampu Memotivasi Anak Didik
Sebelum seorang guru mampu memotivasi anak didik dalam belajar, setidaknya seorang guru memahami kebutuhan anak didiknya. Kebutuhan yang dimaksud merupakan kebutuhan biologis, instink, unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia, semuanya berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dari masalah kebutuhan, yaitu kebutuhan biologis dan psikologis. Menurut Morgan yang ditulis kembali oleh S. Nasution, dikatakan bahwa manusia itu memiliki berbagai kebutuhan.( Sardiman, 1996: 78-80 ) Kebutuhan-kebutuhan itu dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Kebutuhan untuk Berbuat Sesuatu Aktivitas.
Hal ini bagi anak sangat penting, karena perbuatan sendiri itu mengandung suatu kegembiraan baginya. Sesuai dengan konsep ini, maka bagi orang tua yang memaksa anak untuk diam di rumah saja, adalah bertentangan dengan hakekat anak. Hal ini dapat dihubungkan dengan suatu kegiatan belajar bahwa pekerjaan atau belajar itu akan berhasil kalau disertai dengan rasa gembira.
2. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain.
Banyak orang yang dalam kehidupannya memiliki motivasi untuk banyak berbuat sesuatu demi kesenangan orang lain.
3. Kebutuhan untuk mencapai hasil
Suatu pekerjaan atau kegiatan belajar ini akan berhasil baik, kalau disertai dengan “pujian” Aspek “pujian” ini merupakan dorongan bagi seseorang untuk bekerja dan belajar dengan giat.
4. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan
Suatu kesulitan atau hambatan, mungkin cacat, mungkin akan menimbulkan rasa rendah diri, tetapi hal ini menjadi dorongan untuk mencari konpensasi dengan usaha yang tekun dan luar biasa sehingga tercapai kelebihan atau keunggulan dalam bidang tertentu. Sikap anak terhadap kesulitan atau hambatan ini banyak bergantung pada keadaan dan sikap lingkungan. Sehubngan dengan ini maka peranan motivasi sangat penting dalam upaya menciptakan kondisi-kondisi tertentu yang lebih kondusif bagi mereka untuk berusaha mencapai keunggulan.

Kebutuhan-kebutuhan demikian yang harus diperhatikan seorang guru, sebagai bahan pertimbangan dalam memotivasi siswa dalam belajar. Biggs dan Telfer  (Sugihartono dkk, 2007: 78 ) menyatakan pada dasarnya siswa memiliki bermacam-macam motivasi dalam belajar, yang dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu :
1.      Motivasi Instrumental
Siswa belajar karena didorong oleh adanya hadiah atau menghindari hukuman. Motivasi  belajar seperti ini cenderung tidak abadi, karena keinginan belajar hanya dipahami secara materi. Ditakutkan jika tidak ada reward atas belajarnya menjadikan motivasi hilang.

2.      Motivasi Sosial
Siswa belajar untuk penyelenggaraan tugas, dalam hal ini keterlibatan siswa pada tugas menonjol. Motivasi belajar seperti demikian terkesan seperti menjalankan kewajiban tanpa dimaknai secara mendalam apa manfaatnya untuk diri mereka sendiri. Sehingga siswa hanya mengerjakan tugas sekedar untuk memenuhi ritual kegiatan kelas, dengan harapan memenuhi nilai yang ada, tetapi isi dari tugas tersebut cenderung dikesampingkan

3.      Motivasi Berprestasi
Siswa belajar untuk meraih prestasi atau keberhasilan yang ditetapkannya. Motivasi berprestasi erat kaitannya dengan ambisi seseorang untuk mencapai target tertentu, meski kadang terkesan dipaksakan, apa lagi jika motivasi tersebut berasal dari orang lain. Akan tetapi motivasi tersebut baik jika tumbuh dalam diri pribadi sendiri untuk mencapai hasil terbaik.

4.      Motivasi Intrinsik
Siswa belajar karena keinginannya sendiri. Motivasi yang dikehendaki dengan terukur pada kemampuan pribadi, sehingga tidak ada paksaan untuk mencapai prestasi yang optimal.

Motivasi yang tinggi mampu mengiatkan aktivitas belajar siswa. Motivasi yang tinggi tercermin dalam perilaku siswa, seperti adanya kualitas keterlibatan siswa dalam belajar, baik keterlibatan perasaan atau afeksi siswa yang tinggi serta upaya memelihara dan menjaga terus motivasi belajarnya. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah prinsip-prinsip motivasi yang dikemukakan oleh Keller ( Sugihartono, 2007: 78 ) :
1.      Attention (perhatian)
Kondisi perhatian muncul karena didorong rasa ingin tahu peserta didik, oleh karena itu agar siswa selalu memberikan perhatian terhadap materi pelajaran yang disampaikan, siswa perlu mendapat rangsangan. Rangsangan tersebut bisa berupa bahan materi yang bervariasi didukung kesempatan untuk melibatkan peserta didik didalamnya.


2.      Relevance (relevansi)
Kondisi dimana adanya hubungan antara materi pelajaran dengan kebutuhan siswa. Motivasi akan terpelihara jika siswa menganggap apa yang dipelajarinya bermanfaat secara pribadi dan sesuai dengan nilai yang dipegang.
3.      Confidence(kepercayaan diri)
Kondisi dimana seseorang merasa dirinya berkompeten atau mampu, hal ini sangat berpotensi untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Agar kepercayaan diri siswa meningkat, seorang guru perlu memperbanyak pengalaman berhasil siswa, misalnya dengan menyusun aktivitas pembelajaran sehingga mudah dipahami.
4.      Satisfaction(kepuasan)
Kondisi dimana keberhasilan dalam mencapai tujuan, yang mana membuat siswa semakin termotivasi untuk mencapai tujuan serupa. Untuk meningkatkan dan memelihara motivasi siswa, guru dapat memberi penguatan berupa pujian dan pemberian kesempatan.

Prinsip-prinsip motivasi pada dasarnya merupakan kajian untuk mengoptimalkan motivasi belajar siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan motivasi belajar siswa :
1.      Optimalisasi Penerapan Prinsip Belajar
·         Guru telah memahami bahan pelajaran
·         Guru telah memahami bagian-bagian yang mudah, sedang dan susah
·         Guru telah menguasai cara-cara mempelajari bahan
·         Guru telah memahami sifat bahan pelajaran
·         Prinsip belajar seperti siswa memahami tujuan belajar, siswa dihadapkan pada pemecahan masalah yang menantang serta guru mampu memantapkan mental siswa dalam program tertentu sesuai perkembangan jiwa siswa, sehingga belajar menantang siswa memahami prinsip penilaian dan faedah nilai belajar.

2.      Optimalisasi Unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
·         Memberi kesempatan para siswa untuk mengungkapkan hambatan belajarnya
·         Memelihara minat, kemauan dan semangat belajar siswa
·         Memberikan kesempatan kepada orang tua siswa agar memberi kesempatan para siswa untuk mengaktualisasikan dirinya
·         Memanfaatkan unsur-unsur lingkungan, menggunakan waktu secara tertib, merangsang siswa dengan memberi penguat rasa percaya diri.
3.      Optimalisasi Pemanfaatan, Pengalaman dan Kemampuan Siswa
·         Menugasi siswa membaca bahan belajar sebelumnya
·         Guru mempelajari hal-hal sukar bagi siswa, memecahkan masalah tersebut ,mengajarkan cara pemecahan masalah tersebut dengan mendidik keberanian memecahkan masalah tersebut
·         Mengajak siswa mengalami dan mengatasi permasalahan serta memberi kesempatan siswa untuk memecahkan masalah untuk membantu rekannya.
4.      Pengembangan Cita-cita dan Aspirasi Belajar
·         Menciptakan suasana belajar yang menggembirakan
·         Mengikutsertakan seluruh siswa untuk memelihara fasilitas belajar
·         Mengajak seluruh orang tua siswa untuk melengkapi fasilitas belajar siswa.










BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pada diri siswa terdapat kekuatan mental yang menjadi penggerak belajar. Kekuatan penggerak tersebut berasal dari berbagai sumber. Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebut motivasi adalah kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Oleh sebab itu motivasi sangat penting untuk dimiliki oleh para siswa, hal tersebut menyebabkan Guru memiliki peran sebagai motivator, melalui upaya pengoptimalan motivasi belajar siswa.
Upaya pengoptimalan motivasi belajar siswa melalui pemahaman guru akan kebutuhan, dorongan dan tujuan siswanya. Upaya-upaya pengoptimalan tersebut antara lain : Optimalisasi Penerapan Prinsip Belajar, Optimalisasi Unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran, Optimalisasi Pemanfaatan, Pengalaman dan Kemampuan Siswa dan Pengembangan Cita-cita dan Aspirasi Belajar . Sehingga dengan upaya pengoptimalan motivasi belajar siswa akan mendukung pengembangan pendidikan yang lebih maju. Siswa merupakan objek dari pendidikan, hendaknya memang harus diperhatikan secara menyeluruh. Dalam pribadi siswa inilah akan dibentuk karakter yang menentukan secara kolektif  sumber daya manusia suatu bangsa. Oleh karena itu Motivasi seorang siswa harus dipupuk sejak dini, dengan siswa di arahkan untuk terbiasa memiliki motivasi yang tinggi dalam segala hal khususnya belajar.








DAFTAR PUSTAKA

Sugihartono, dkk. 2007.  Psikologi Pendidikan . Yogyakarta: UNY Press
(11-10-2009, 21:15 )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar